7
Jan
Oleh Krisnawan Putra pada Training Need Analysis, Training for Trainer. Ditandai:Trainer, Trainer NLP, Training, Training NLP. & Komentar
Training Need Analysis (TNA) adalah kegiatan/aktivitas menganalisis kebutuhan training. Ibarat kegiatan dokter dalam menangani sakit pasien, maka TNA adalah mirip (meski tak sama) dengan kegiatan mendiagnosis penyakit. Untuk mendiagnosis penyakit, dokter perlu melakukan wawancara pendahuluan dan pendalaman dengan pasien, menyentuh bagian-bagian tubuh pasien yang dirasa sakit, mengukur tekanan darah, memeriksa mata dan mulut pasien dengan senter/alat bantu penerang lainnya, bahkan memerintahkan dilakukan cek darah ke laboratorium untuk mendapatkan hasil yang presisi.
Kegiatan diagnosis ini menjadi vital, mengingat jika terjadi salah diagnosis sangat mungkin terjadi bukannya pasien sembuh, namun justeru malah meninggal, atau kalaupun sembuh membutuhkan waktu yang ralatif lama dan dengan biaya cukup besar. Sekarang kita menjadi paham, mengapa kegiatan mendiagnosis penyakit yang dilakukan oleh dokter, biasanya memakan waktu panjang, dilakukan secara bertahap, dan fasenya berkelanjutan, dibanding tindakan intervensi/operasi penyakitnya sendiri.
Pun demikian dengan training, TNA adalah serangkaian proses untuk menemukan akar masalah penyebab terjadinya GAP antara tuntutan pekerjaan dengan hasil performance karyawan dan kemudian memberi solusi yang tepat melalui pengembangan Knowledge, Skill, Attitude (KSA) karyawan. Lanjutkan membaca
27
Des
Oleh Krisnawan Putra pada Coaching, HRD Department, Motivasi, Motivator, NLP & Trainer, NLP & Training, NLP Indonesia, Pembicara Publik, Trainer, Training Need Analysis, Training for Trainer. Ditandai:Mencari Trainer & Training?. 1 Komentar
Ada beberapa kejadian umum yang akan terjadi di peta market training Indonesia 2009 sebagai akibat dari krisis financial global. Konsumen akan sangat selektif menginvestasikan program-program pengembangan SDM melalui program training. Selektif karena memang budget training pasti lebih terbatas dibanding tahun 2008. Selektif dapat diartikan juga konsumen akan melakukan prioritas-prioritas dalam ’membelanjakan’ kebutuhan trainingnya. Situasi demikian akan mengakibatkan perilaku konsumen (company) akan membentuk pola-pola pilihan sbb:
1. Konsumen kecenderungannya HANYA akan memilih training-training yang langsung TERKAIT dengan TUGAS dan TANGGUNG JAWAB karyawan untuk menjawab kebutuhan TERAPAN PRAKTIS dalam JANGKA WAKTU terdekat.
2. Oleh karena itu, training yang berorientasi SKILL akan menjadi PILIHAN utama. Pilihan kedua adalah yang berorientasi ATTITUDE, sementara pilihan akhir jatuh pada training yang bertujuan pada pengembangan KNOWLEDGE.
3. Konsumen akan lebih LOYAL kepada TRAINER yang mampu menjawab masalah karyawan/organisasi secara konkrit. Jika pola TRUST company terhadap kompetensi dan pengalaman Trainer sudah muncul, besar kemungkinan company akan mengikat kerjasama secara komprehensif dan dalam jangka waktu panjang dengan Trainer tsb.
4. Akan terjadi OVER SENSITIVE terhadap PRICING training. Hal ini wajar terjadi dalam kondisi pasar yang tak wajar di tahun 2009. Namun demikian, pricing yang sangat terjangkaupun kembali akan diadu dengan tingkat kualitas dan kredibilitas sang Trainer. Menjadi BUMERANG bagi Trainer yang mengobral harga murah, namun kemampuannya setengah-tengah. Lanjutkan membaca