“Hey, mengapa kau bersiul terus wahai betet kecil?” padahal sepanjang hari tadi bukankah kamu sudah gagal terbang?” hardik nuri kuning
“Nuri kuning yang baik, justru aku itu bersiul sebagai tanda rasa terima kasih atas feedback-feedbackmu padaku”. “Kamu tadi khan bilang kalau teknik sayapku kurang kubuka lebar, ancang-ancangku kurang jauh, aku tidak memperhatikan arah angin bertiup”.
“Aku besok akan terbang dengan cara beda! mencoba mengikuti cara-cara yang kamu feedbackkan”. Aku yakin besok aku sudah akan bisa terbang sepertimu.
Sambil terus bersiul, betet kecil terus mencoba teknik-teknik baru, meski hari sudah petang, karena tak sabar ia menunggu matahari menyingsing di esok pagi.
Akhirnya pagi itu pun datang. Sambil bersiul makin kencang, betet kecil tanpa sadar sudah berhasil terbang dari pucuk pohon yang satu ke pucuk pohon yang lain.
“Luarbiasa jika aku mau mempraktekkan feedback ini ya” renung betet kecil sembari terus mengingat-ingat kunci sukses terbangnya: “buka sayap lebar-lebar, ambil ancang-ancang lebih jauh, ikuti arah angin meniup”.
Dan akhirnya pecahlan siulan “terkencang” betet kecil pagi ini: “Dimanakah gagal itu kini, hey nuri kuning?”
Copyright® by Krisnawan Putra

No comments
Pengumpan komentar untuk artikel ini