PORTAL TRAINING INDONESIA

Icon

Membeli Waktu

iwan-erstyawan.jpg

Kapan saatnya kita berganti karir, pekerjaan, atau memulai usaha? Jika pertanyaan ini diajukan di kelas training tanggapannya bisa berbagai macam, mulai dari hanya bergumam sampai mempermasalahkan mengapa harus menjawab. Namun sebenarnya jawabannya adalah ketika kita sudah merasa perlu untuk membeli waktu.

Dari siklus hidup manusia, jelas kita saat ini ada diusia emas, dengan energi yang sangat besar dan ambisi serta cita-cita yang juga sangat tinggi. Kita juga pasti sudah menetapkan target-target tertentu dalam hidup kita. Entah punya mobil, entah punya rumah type 21 (tanahnya 2 hektar rumahnya 1), entah memberikan pendidikan anak ke luar negeri atau bahkan yang sedang ngetren, pensiun muda kaya raya gemah ripah loh jinawi bisa jalan-jalan terus keluar negeri tapi tidak khawatir makan sehari-hari.

Apapun yang saat ini kita lakukan, putuskan dan usahakan pasti bermuara pada pencapaian target itu.

Masalahnya usia emas ini tidak berlangsung lama, paling-paling hanya berlangsung 20-an tahun atau bahkan lebih singkat. Seiring dengan makin tingginya usia kita, pasti kesehatan, vitalitas dan energi akan semakin berkurang. Biaya-biaya check in (di RS) juga makin tinggi. Semangat juga sudah mulai berkurang, apalagi ambisi untuk meraih sesuatu. Read the rest of this entry »

Filed under: Karir, Keuangan Keluarga, Pengembangan Diri, Pindah Kuadran

Delon pun Berkarya Hingga Merauke, Masihkah Anda Takut Keluar dari Comfort Zone?

 

delon-dan-wina.jpgSaat perjalanan pulang via Merpati Airlaines dari Merauke menuju Timika, saya duduk sebangku dengan gadis Papua asli Merauke, berasal dari suku Muyu, Wina namanya. Wina adalah sarjana lulusan Universitas Cenderawasih (UnCen) Jayapura, yang sekarang bekerja di sebuah LSM Merauke.

Wanita ini sangat komunikatif, enak diajak diskusi, open mind pemikirannya. Namun, seperti kebanyakan sarjana asli Papua, begitu mereka lulus dari universitas luar negeri, dalam negeri di Jawa, Sulawesi, Bali, biasanya mereka langsung kembali ke tanah kelahirannya. Dan konon, maaf berdasar informasi yang saya dapat, ada kecenderungan ketika para sarjana seperti Wina ini, kembali ke lingkungan keluarga dan adatnya, mereka lambat laun kembali menjadi pribadi yang ”dipengaruhi” oleh lingkungannya.

Yang terjadi, proses peleburan dengan niat awal untuk membangun tanah kelahirannya, malah kadang berbalik menjadi aktifitas yang biasa-biasa saja yang menunjukkan kurangnya eksistensi dan kompetensi sebagai sarjana. Pengaruh lingkungan dan peran sosial masih sangat kuat. Akhirnya, niat semula untuk membawa pengaruh positif membangun masyarakatnya menjadi kurang teraktualisasi secara jelas. Read the rest of this entry »

Filed under: Pindah Kuadran