Sukses Keluar Comfort Zone: Belajar dari Semangat Anak Muda


Aninditya, gadis 26 tahun ini sekarang bekerja di salah satu NGO asing di Aceh. Sesungguhnya, dia sangat mudah untuk memilih bekerja di pulau jawa, pulau asal kuliahnya. Namun, semangat untuk berpetualang, dorongan untuk belajar hal baru, membantu sesama yang habis kena musibah, menjadikan ia memutuskan ‘merantau’ ke ujung pulau Sumatera, jauh dari orang tua, jauh dari keluarga.

Sekalipun sekarang ini oleh situasi kerja kantor di sana yang menurutmu tidak kondusif lagi untuk kamu berkembang, ada sejumlah prinsip profesionalitas kerja di kantor yang mulai menurun, meski oleh karena hal tsb harus kamu lalui dengan deraian air mata, kamu dengan gagah berani memutuskan untuk memilih pindah kerja, ke arah yang sesuai panggilan nurani hatimu khan membawa.

Sungguh kami belajar darimu Aninditya!…kadang kami tak punya nyali seberani Anda. Kami terkadang memilih tidur di dekapan ketiak comfort zone, meski umur kami sudah lebih dari 30, 40, bahkan 50 tahun, beribu kali kami berpikir untuk berani melanglang buana sepertimu. Demikian pula dengan sikap kamu yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerja profesional, kami salut. Meski kamu di gaji >5 juta perbulan, bila ada prinsip kerja yang tak profesional, tak segan-segan engkau segera hengkang kaki dari sana. Terima kasih Aninditya.

 

Ariel, mahasiswa yang satu ini, punya misi hidup untuk dapat selalu memotivasi orang lain. Meski dengan segala kesibukan jadwal kuliahnya di Surabaya sana, ia masih terus menyempatkan diri untuk berbagi, dan berbagi motivasi dengan sesama rekan mahasiswa lain. Pria yang mengaku melankolis ini, saat ini mencurahkan ide-ide positifnya ke dalam tulisan-tulisan yang dapat diakses oleh banyak orang. Dorongan sharingnya luar biasa, sekali lagi meski hal itu dilakukan tanpa bayaran sepersenpun. Ia pun sekarang ini, di usia mudanya, terus belajar bagaimana terampil untuk memotivasi orang lain.

Kami belajar darimu Ariel! Terkadang kami sudah malas belajar, malas memotivasi orang lain, bahkan memotivasi diri kami sendiri untuk berubah, berkembang. Apalagi untuk sharing seperti kamu, kadang kami dibayarpun masih enggan, karena takut ilmu kami akan ditiru orang lain. Kami masih menikmati ‘kenyamanan semu’ ini. Thank’s a lot Ariel.

 

Rini, yang sekarang sedang belajar di sekolah calon guru ini, sudah memiliki cita-cita mulia, mendirikan sekolahan gratis bagi kaum remaja. Untuk mencapai cita-citanya tsb, di tengah-tengah padatnya jadwal kuliah, ia sudah mendirikan lembaga training yang dikelola bersama teman-teman kampusnya. Ia mencari cara demikian rupa untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Dengan menjadi magang-er di sebuah lembaga training profesional atas inisiatif sendiri, bukan sekolahan. Juga, menyediakan diri di coach oleh para Trainer senior.. Semua itu dia jalani demi satu cita-citanya di masa depan, dengan jalan dan cara yang tak biasa dibanding rekan-rekan sejawatnya, yang lebih demen dan nyaman belajar saja di bangku kuliah.

Kami belajar darimu Rini! Terkadang kami enggan mencari cara-cara baru yang kreatif dalam kami bekerja. Kami lebih senang menikmati situasi business as usuall, daripada harus mencari terobosan-terobosan baru. Apalagi masuk ke zona-zona baru yang masih ‘berhutan rimba’ waddeeewwwHatur nuhun Rini.

 

Wiyna, karyawati muda usia 23 tahun ini, selepas kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat ini diterima bekerja di Jakarta. Dekat memang, namun bukan itu yang akan saya ceritakan. Di usia relatif mudanya ini, dia telah memiliki targetan hidup yang luar biasa. Sekarang ini ia ingin belajar menjadi profesional sejati. Dua perusahaan papan atas di segmennya, telah berhasil ia raih. Memang dia cerdas, energik dan supel dalam bekerja. Di usia 26 tahun nanti, ia telah pasang targetan untuk studi lanjut S-2 dengan biaya sendiri. Untuk itulah sedari pertama diterima kerja, ia sudah menabung untuk kepentingan tsb. Kelak menurutnya, setelah lulus S-2 ia ingin mengabdikan diri dengan ilmunya tsb, untuk pengembangan masyarakat di tanah kelahirannya, salah satu pulau di timur wilayah Indonesia.

Terima kasih Wiyna, engkau telah mengajarkan kepada kami tentang apa arti penting penyusunan target dalam hidup ini. Terkadang, kami sama sekali menafikkan penyusunan target ini, dengan dalih biarlah hidup ini mengalir saja. Dan akhirnya, justru kami sendiri yang hanyut ditelan aras kehidupan, karena kami tak siap dengan cepatnya perubahan jaman. Kami malu setua ini, masih belum menyusun target-target baik jangka pendek maupun panjang. Makasih ya Wiyna, atas pelajaran hidupmu.


Sumber tulisan: Sekolah Kehidupan, sharing experience penulis

Nama-nama pemberi inspirasi hidup, sengaja penulis samarkan

3 pemikiran pada “Sukses Keluar Comfort Zone: Belajar dari Semangat Anak Muda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s