Belajar dari Langkah Progresif LION Air


Minggu, 17 Juni 2007.

Pagi itu, pukul 07.00, saya berada di Bandara Mutiara Palu. Tujuan mau balik ke Jakarta sehabis memfasilitatori U Mild U Bikers Safety Riding Course sehari sebelumnya. Tampak dari ruang kaca tunggu, satu pesawat saja Mc Donell Douglas warna merah menyala milik maskapai Wings Air. Ternyata pesawat itulah yang akan membawa terbang menuju Makasar, transit sebentar trus dilanjutkan dengan pesawat lain menuju Cengkareng.

Nah setibanya di Bandara Hasanudin Makasar, setelah santai sejenak, mata saya tertuju dan terkesima melihat Boeing baru, besar, gagah dan anggun, sedang bergerak melamban menuju landasan parkir airport. Kontan saja saya membayangkan dalam pikiran, semoga ini yang khan membawaku ke Jakarta, hmmmm. Benar adanya. Ternyata pesawat Lion baru inilah yang akan saya tumpangi!

Nah, inilah momentum awal saya melangkahkan kaki memasuki pesawat baru ini. Kesan yang pertama kali muncul adalah perasaan safety untuk terbang! Inilah pertama kali rasa itu muncul, dibanding pengalaman terbang dengan pesawat-pesawat lain yang selama ini saya naiki. Sembari duduk tepat di samping jendela pesawat, langsung mata menatap sayap pesawat yang terlihat kokoh, kuat, lebar, bersih dan artistik di ujungnya menjulang manis ke angkasa. Konon Lion sudah memesan hingga 60 pesawat jenis Boeing 737 900ER ini. Wow!

Ya, perasaan aman! Itulah perasaan yang selama ini menjadi barang sangat mahal di negeri ini dalam menikmati fasilitas transportasi umum. Luar biasa langkah progresif Lion ini. Meski maskapai ini masih relatif baru, namun dia berani berinvestasi untuk mengobati dan menjawab kebutuhan masyarakat luas Indonesia untuk terbang dengan aman, nyaman dan murah. Ia sudah berpikir dan mulai melangkah satu step di depan maskapai-maskapai lain di Indonesia. Bahkan Lion adalah pelopor pembelian Boeing baru jenis ini di seluruh dunia. Ups~hebat ya?

Namun, jangan buru-buru happy meneruskan membaca tulisan saya ini. Meski armada pesawatnya baru, bukan berarti semuanya menjadi sempurna. Hal itu saya rasakan ketika pertama kali duduk di pesawat ini. Penataan kursinya terasa sangat sempit, terkesan pokoknya bisa muat penumpang banyak:) Dengan format kursi kanan-kiri 3 buah, dan antar kursi depan belakang yang pendek, menyebabkan dengkul akan bersentuhan dengan kursi di depannya… apalagi dengan panjang badan saya lebih kurang 175 cm. (Kalau mau longgar di kelas bisnis aja Pak, he he he)

Hal lain adalah sentuhan keramahan para pramugari yang cukup dingin, alias jarang senyum mengembang. Padahal dari sisi corak warna dan desain baju pramugari Lion tampak lebih bright, lebih anggun sekaligus lebih berani-optimis. Ada baiknya para pramugari Lion yang relatif lebih muda-muda ini (+) dapat belajar dari para pramugari Singapore Airlines dalam melatih diri tersenyum melayani customer. Semoga!

Satu lagi, hal yang bisa dilakukan manajemen Lion Air agar makin progresif adalah, sistem pelayanan tiket ketika hendak boarding. Dua kali saya pernah memiliki pelayanan yang buruk. Tiket sudah ditangan namun, kursi (di pesawat) cukup lama dicarikan oleh petugas. Bisik-bisik diantara kami penumpang (semoga ini salah), kadang kursi tsb udah menguap ke orang lain, dengan alasan tak ada konfirmasi lagi sebelumnya, ugggghkk. Logikanya, penumpang sudah jelas-jelas pegang tiket resmi, yang artinya duit udah masuk ke Lion, khan pasti dapat kursi dunk? Kalaupun tidak demikian, ya musthinya pelayanan saat boarding tak perlu menunggu sampai lebih 20 menit dikacangin di depan meja crew Lion. Uhhh.

Nah pernah nih kejadiannya, pengurusan di boarding sampai lebih dari 15 menit, yang saya sendiri tak tahu penyebabnya. Hanya kesannya terjadi keribetan koordinasi antara satu petugas dan petugas lain. Ujung-ujungnya terdengar pengumuman: ”kepada para penumpang Lion Air, karena alasan operasional pesawat, maka penerbangan Anda akan mengalami keterlambatan selama lebih kurang 30 menit dari sekarang, untuk itu kami mohon maaf… ”. Nah itu khan terlambat? (Jumat, 15 Juni 2007, Pkl 12.00, Bandara Soekarno-Hatta).

Sayang khan kalau pesawatnya sudah gagah, bagus, aman, belum diimbangi pelayanan crew dan sistem yang optimal.

Tapi sebagai Trainer, saya sih tetap optimis kalau Lion berangsur-angsur akan progress di tahap ini. Pokoknya proficiat buat langkah progresif Lion! Feeling saya, ke depan Lion akan semakin kuat, sekuat singa…

Maju terus.

Salam Progresif, LION!

3 pemikiran pada “Belajar dari Langkah Progresif LION Air

  1. Salut…. semoga garingnya para pramuniaga eh…sori pramugari mendorong you untuk memberikan pelatihan CS ke mereka…….. maju terus…….. sometimes buka link dengan punyaku ya………….

    R.P. Margateki
    Depok

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s