Kalau Bisa jadi Pelopor, Kenapa Mesti jadi Pengekor?


Coba tolong jawab pertanyaan berikut ini: siapa pelopor kata-kata kembali ke laptop? Siapa pelopor musik dangdut di indonesia? siapa tokoh pelopor olimpiade fisika di indonesia? acara apa yang menjadi pelopor jurnalisme infotainment di televisi indonesia? Siapa penyanyi pemopuler indonesian idol? Siapa penyabet gelar Mamamia pertama kali (kalau ini kita tunggu ya)? Siapa pelopor kegiatan rekreatif di rumah Anda?

Pasti dengan mudah kita mampu menjawabnya. Namun, tampaknya menjadi tidak begitu mudah untuk mengingat siapa-siapa penerus, pengembang, pembaharu bahkan pengekor mereka. Yah, inilah hidup. Kadang memang tidak adil, karena hanya pelopor yang diingat, sementara penerus, pengembang temuan (+) atau pengekor (-) dilupakan alias tak mudah diingat.

Untuk jadi seorang pelopor, bisa dimulai dari hal-hal kecil. Tak perlu dulu yang fantastic atau spektakuler. Misal, pelopor bangun pagi di rumah, pelopor keceriaan di tempat kerja, pelopor munculnya ide-ide baru di tim, pelopor perdamaian bila muncul konflik antara atasan dan bawahan. Nah, kalau kita sudah terbiasa menjadi seorang pelopor, next pasti ada satu momentum yang pas banget untuk kita jadi pelopor yang shocking.

Kita dilahirkan sebagai kepala (pelopor) bukan kaki (ekor). Sadari…

2 pemikiran pada “Kalau Bisa jadi Pelopor, Kenapa Mesti jadi Pengekor?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s