Exhouse Training vs Inhouse Training, Mana Lebih Efektif?


Jangan terlalu berharap Anda akan mendapat materi yang customized sesuai kebutuhan, bila Anda mengikuti exhouse training! Mengapa? Mari kita gunakan akal sehat. Pertanyaan sederhana: siapa yang mendesain materi pada exhouse training? Seberapa jauh masalah dan kebutuhan Anda diketahui oleh trainer/pembicara publik SEBELUM training berlangsung? Bukankah semua Anda percayakan pada ’asumsi’ sang trainer semata atas kebutuhan dan masalah Anda? Hmmmm.

Ya, inilah kekhasan exhouse training. Semua desain materi training, alur, metode, contoh kasus menjadi otoritas penuh trainer. Inilah hukum exhouse training paling dasar. Trainee adalah pihak yang datang, terima, diskusi dan cerna. Keterlibatan trainee hanya terjadi pada saat jam efektif di kelas, saat berlangsung proses pembelajaran.

Bagaimana dengan inhouse training? Menjadi wajib hukumnya bagi trainer untuk melakukan survey dan atau wawancara mendalam dalam proses Training Need Analysis (TNA). Data atau informasi dapat diperoleh dari bagian training/SDM, manager lini, bahkan dari peserta training sendiri (baik random sampling maupun all). Artinya masalah, kebutuhan, latar belakang trainee dan organisasi, sudah dipotret oleh Trainer.

Hasil pemotretan ini sebagai dasar pijakan trainer untuk bergerak, melangkah merumuskan sasararan training, membuat desain training, mengcreate kasus, membangun alur, memilih metode. Hasil TNA dan desain training inipun harus mendapat approval dari klien (sebagai wakil trainee). Inilah ‘rel’ pembelajaran yang harus dilalui menuju ‘stasiun’ tujuan. Melenceng, melebar, menjauh dari rel adalah bentuk kegagalan program, meski saat hari H kelas hingar-bingar dengan canda tawa.

Lalu apakah inhouse training bisa dikatakan lebih efektif dibanding exhouse training? Dalam konteks organisasi, sejauh pengalaman saya 10 tahun berkecimpung di dunia training di perusahaan, memang demikian adanya. Mengapa?

  1. Masalah yang diangkat sangat customized sehingga lebih fokus memberi jawab atas problem riil di perusahaan klien
  2. Pemahaman terhadap isu, masalah, ilmu, skill baru, diketahui dalam momentum yang sama dan bersama-sama oleh para trainee dalam satu perusahaan
  3. Action plan pasca training, bisa difollow up menjadi program kolektif di perusahaan
  4. Kelas lebih homogen sehingga lebih mudah mendiskusikan, lebih dalam pembahasannya, guna mencari solusi bersama terhadap suatu masalah penghambat kinerja perusahaan.
  5. Adanya feedback dan rekoemendasi berupa report dari Trainer/pembicara untuk perusahaan pasca training. Feedback lebih jelas dan terukur.

Kelebihan inhouse training di atas bisa terjadi ASAL TNA nya tajam dan fokus serta adanya kompetensi yang handal dari trainer untuk mengolah, meramu, memasak dan menyajikan masakannya yang pas dibutuhkan klien.

Namun, exhouse training akan jauh lebih efisien dibanding inhouse training. Ini berlaku bila karyawan yang membutuhkan suatu topik training tertentu jumlahnya kecil, misalnya kurang dari 5 orang. Di lain sisi bugjed training juga terbatas sementara kebutuhan training tak bisa ditunda lagi.

Jurus lain agar mengikuti exhouse training menjadi lebih efektif adalah trainee harus mampu mengambil frame of thinking, pandai melakukan analogi materi dan contoh kasus. Ingat materi dan peserta exhouse training sangat heterogen. Misalnya, kalau materi ini diaplikasikan di pekerjaan saya, hal-hal apa saja yang bisa saya manfaatkan untuk perbaikan? Dalam konteks ini, bila trainee sudah lihai melakukan analogi dan mengambil frame of thingking, maka tak terlalu menjadi masalah latar balakang trainee dikaitkan dengan topik dan contoh bahasan yang berbeda dengan latar belakang jenis industri trainee.

Benefit lain dari exhouse training adalah mendapat network baru untuk memperlancar atau mengcreate peluang-peluang kerjasama baru. Dengan peserta yang heterogen dan pembahasan materi lintas industri, akan membawa pemerkayaan dan pemahaman tersendiri dibanding bila peserta berasal dari satu perusahaan.

Kunci utamanya untuk efektif mengikuti exhouse training adalah dengan memastikan secara jelas untuk alasan apa saya ikut exhouse training tsb. Kemudian silahkan mempelajari secara detail brosur atau penjelasan program trainingnya. Kalau memungkinkan lakukan upaya terakhir ini: menanyakan kepada networking Anda tentang kualitas Trainer serta penguasaannya terhadap modul training pilihan Anda tersebut. Pasti Anda tidak membeli kucing dalam karung…

Emang masih ada jaman sekarang praktek jual beli kucing dalam karung? he he he

———–

Keterangan:

Exhouse Training : Training/seminar yang di desain, diselenggarakan, dikelola oleh pihak vendor penyedia jasa training.

Inhouse Training : Training/seminar yang di desain, diselenggarakan, dikelola oleh dan untuk perusahaan tertentu saja.

2 pemikiran pada “Exhouse Training vs Inhouse Training, Mana Lebih Efektif?

  1. MAS KRISNAWAN,
    INHOUSE LEBIH EFEKTIF DARI PADA EXHOUSE/PUBLIC.
    INHOUSE BISA LEBIH EFISIEN DARI PADA EXHOUSE/PUBLIC, JIKA JUMLAH PESERTA BANYAK.
    Jika peserta sedikit, lbh efisien exhouse, tentu..ehem..
    SEMUANYA, mesti ikuti ‘rel’ pembelajaran, setuju!!
    salam mulia, salam mulai
    harry ‘uncommon’
    uncommon leadership center

  2. Benar Pak Harry Uncommon,

    Baik Inhouse maupun Exhouse Training ada plus minusnya. Satu yang pasti, keduanya harus jelas goal, desain, dan need analysisnya.

    Salam Mulia, salam Mulai Pak Harry Uncommon🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s