Mengapa Training Motivasi Laku Keras?


Dalam kesempatan saya memberi konsultasi tentang training, trainer, maupun saat melakukan training need analysis (TNA) kepada klien, saya menemukan fenomena yang hampir merata terjadi. Saat ini banyak masalah pribadi maupun organisasi kental bernuansa dengan menurunnya motivasi kerja karyawan (demotivasi). Beragam pemicu yang menyebabkan. Dari kehidupan tak semakin mudah, persaingan semakin ketat, hingga target-target pekerjaan makin tinggi.

Di sisi lain, tantangan yang terjadi di masa lalu sudah tak mampu diselesaikan dengan cara yang sama pada saat sekarang. Cara penyelesaian yang sama tersebut menjadi usang. Karena tuntutan customer terus berubah, berkembang, kompetitor sangat agresif, ligat, atraktif melakukan move dengan kreatifitas baru, pendekatan baru.

Endurance motivasi menjadi kata kunci manakala banyak situasi baru bermunculan yang tak terprediksi sebelumnya. Organisasi sebagai kesatuan dari sistem dan orang tentu perlu menyesuaikan diri bahkan agar survive harus berdiri paling depan dalam berinovasi atas situasi ini. Namun, memotivasi, mengajak berubah orang tak semudah membalik telapak tangan. Memerlukan strategi, effort dan sekaligus waktu.

Nah, dalam konteks seperti ini, salah satu strategi yang dipilih oleh manajemen perusahaan yang dipandang masih efektif adalah dengan memberikan training motivasi.

Biasanya level pimpinan yang digarap lebih dulu. Mengapa? karena peran leader sangat vital dalam konteks motivasi ini. Dialah yang akan menularkan virus-virus positif ajakan perubahan (agent of change) dan sekaligus memotivasi anggota tim nya untuk terus mampu bekerja dengan maksimal, efektif, kreatif.

Strategi lain adalah mengikut sertakan semua level karyawan (tak sekadar leader) dalam satu event training motivasi ini. Reasioning yang sering disampaikan adalah biar gerakan menumbuhkan motivasi ini bisa seragam, serentak, satu frame, satu bahasa di kalangan karyawan dan pimpinan. Untuk tujuan ini, training motivasi sering dikemas menjadi satu rangkaian dengan acara employee gathering, raker, atau outing karyawan. Selain momentnya dipandang lebih pas, pilihan training motivasi di acara-acara awal tahun atau akhir tahun berjalan, dirasakan lebih efisien dan efektif dari sisi waktu dan biaya.

Jadi menurut saya, latar belakang training motivasi saat ini ‘laku keras’, karena memang ada riil kebutuhan berkaitan dengan motivasi diri atau demotivasi karyawan (konten), juga karena di dorong oleh faktor momentum munculnya demotivasi, dan kapan paling tepat penyelenggaraan trainingnya (konteks).

Tantangan yang lain adalah bagaimana MEMILIH motivator/trainer/pembicara publik yang TEPAT untuk training motivasi Anda? Karena di marketpun saat ini sudah tersedia BERAGAM PILIHAN Motivator dengan segala brand dan spesialisasinya, pastikan Anda tidak salah pilih. Di kesempatan tulisan lainnya, saya akan membantu menguraikan karekteristik motivator, konten, maupun pendekatan deliverynya.

Mendiskusikan tahap pemilihan Trainer/Motivator/Pembicara Publik dengan orang/pihak lain yang memahami ‘peta’ training motivasi ini, menjadi salah satu cara efektif untuk menjadikan training Anda sukses.

 

 

 

2 pemikiran pada “Mengapa Training Motivasi Laku Keras?

  1. Salam Progresif, Mr. Krisnawan:

    Saya menjadi semakin yakin kalau banyak orang yang butuh bantuan untuk menyemangati dirinya sendiri. Beberapa kali terlibat dalam character building n motivational training, saya menemukan banyak orang yang mengalami defisit emosi dan menyisakan lobang menganga kekosongan diri. Di satu sisi, ini menjadi peluang bisnis, tapi di sisi lain ini menjadi kegelisahan saya.

    Salam Smart dan Hidup bahagia.

  2. Dear Martin Susilo,

    Salam kenal.

    Jadikan kegelisahan tsb menjadi misi diri. Bukan uang atau bisnis yang menjadi tujuan, namun keterpanggilan untuk mengisi ruang menganga kosong pada orang lain tsb, menjadi kembali padat berisi. Sesungguhnya uang akan datang sendiri dari manapun lini, tanpa mesti dicari.

    Maju terus untuk membuat hidup orang lain dan diri sendiri menjadi makin berarti

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s