Serunya Duduk Semeja Dengan Para Kompetitor


Hari ini saya memperoleh pengalaman baru. Pengalaman pertama selama 11 tahun bergelut di dunia training. Seperti layaknya pengalaman pertama, membawa kenangan tak terlupakan. Sungguh!

Ceritanya bergini. Dua hari yang lalu saya dihubungi teman lama yang dulu pernah kami berdua bekerja di satu perusahaan, sekalipun beda divisi. Ia bermaksud menawarkan kerjasama sinergis. Wah dasarnya saya suka sinergi, tawaran tersebut langsung saya iyakan. Sebagai informasi, teman saya ini sekarang memiliki perusahaan event organizer sendiri yang biasa membuat event-event corporate, seperti launching product, CSR, national meeting, entertainment, employee gathering.

Nah event kali ini ia mendapat tawaran project dari klien yaitu mengcreate program outbound training. Suatu bidang baru baginya, karena selama ini tidak pernah menangani event training apalagi outbound. Berbekal memanfaatkan peluang, kesempatan baik ini tidak ia sia-sia kan. Untuk kepentingan inilah ia menggandeng saya sebagai konsultan training.

Pagi ini kami berdua diundang oleh klien untuk mendapat gambaran awal kebutuhan training. Dalam benak saya, undangan ini sebagai proses training need analysis (TNA). Hal biasa yang sudah bertahun-tahun saya lakukan. Saya pun masih berpandangan bahwa hanya kami berdua yang di undang di acara ini, karena demikianlah lazimnya dalam proses TNA hanya ada satu vendor yang diundang. Kalaupun di compare dengan vendor lain, biasanya klien akan mengalokasikan waktu yang berbeda, tidak dalam satu forum.

Namun inilah uniknya bisnis, semua kemungkinan bisa terjadi. Fantastic, pagi ini saya mengalami situasi sangat-sangat beda dari biasanya! Situasi apa yang kira-kira terjadi? Dan apa yang dapat kita pelajari maybe next time Anda mengalami hal yang sama?

Cepat Switch dengan Situasi dan Tuntutan Baru

Saat memasuki ruangan meeting, dalam hati saya bertanya, kok banyak banget rombongan dari klien yang ikut rapat, padahal ini khan TNA? Saya baru paham saat klien mempersilahkan kepada tiap-tiap vendor memperkenalan diri. Rupanya ada 4 tim vendor yang diundang termasuk kami. Kami duduk satu meja dengan para kompetitor! Alamak, tak kusangka tak kuduga. Wah ini baru seru namanya. Saya putuskan pada diri untuk buka mata buka telinga selebar-lebarnya, menikmati petualangan langka ini, satu meja dengan para kompetitor.

Nah lebih seru lagi, di sela-sela memperkenalkan diri masing-masing vendor, sudah muncul banyak pertanyaan dari klien. Sudah berapa tahun lembaga Anda berdiri? Berapa jumlah klien yang pernah ditangani? company besar mana yang pernah jadi klien Anda? Hmmm, saya senyam-senyum dalam hati, memperhatikan dan mencermati pilihan kata dan kalimat yang meluncur dari kompetitor, maupun partner saya mewakili vendor kami. Ini baru real business, man!

Oke, singkat kata setelah tahap perkenalan selesai, klien selanjutnya menjelaskan konsep bisnis, lingkup bisnis, dan latar belakang kebutuhan outbound training. Ya kalau ini sih baru pure TNA meski baru gambaran global. Benar adanya, setelah tahap overview kebutuhan, pihak klien mengajukan kesempatan untuk masing-masing vendor mengajukan pertanyaan pendalaman. Wah ini tahap yang saya tunggu-tunggu. Kekuatan dan kelemahan kompetitor akan tersingkap di sini. Sebaliknyapun, kompetitor pasti akan mengukur dan mencermati kami. Antara seru, geli, serius, jail, lucu, bercampur jadi satu.

Segera Positioningkan Diri Anda di Benak Klien dan Kompetitor

Tak tanggung-tanggung, kesempatan pertama langsung kami sambar. Pertama partner saya, dan kedua saya. Pertanyaan kamipun langsung menukik ke inti problem. Barangkali kata para Trainer Customer Service ini adalah bagian dari mengembagkan strategi ’moment of truth’. Meskipun sebelumnya kami berdua tidak membuat skenario ini sebelum pertemuan. Alhasil, strategi ini cukup ampuh. Rupanya klien sangat terasa interest dan tergugah dalam menanggapi pertanyaan kami yang menukik ke core problem.

Wajah-wajah peserta meeting yang lainpun isi kepalanya terbelah dua. Antara mendengarkan jawaban klien, dan mempersiapkan pertanyaan selanjutnya. Kadang tibalah waktunya saya gantian jadi pendengar. Saya memfokuskan perhatian terhadap konten, arah, dan konteks pertanyaan mereka. Tiba pada moment yang pas, saya gunakan kesempatan kedua untuk justru memberi masukan, bukan pertanyaan.

Saya melihat adanya komposisi kurang ideal antara alokasi waktu dan jumlah peserta bila ditinjau dari konsep experential learning. Klien memberikan alokasi waktu yang pendek jika dibanding besarnya jumlah peserta. Saya menyampaikan bahwa komposisi waktu seperti ini tidak akan mampu memberi hasil pembelajaran yang optimal kepada semua peserta. Rupanya usulan saya ini dipertimbangkan. Kompromi terakhir, klien sepakat untuk memberi tambahan waktu ½ hari. Semua vendor terlihat menarik nafas lega…

Inilah sharing pengalaman saya. Pengalaman pertama duduk satu meja dengan kawan-kawan seprofesi dalam posisi berseberangan. Namun saya percaya kawan, next time kita pasti akan duduk berdampingan.

3 pemikiran pada “Serunya Duduk Semeja Dengan Para Kompetitor

  1. Pengalamanku malah sering harus semeja dengan para kompetitor. Tapi ketika bertemu kompetitor, aku memposisikan diri sebagai terbuka, terutama untuk networking, sumber informasi/wawasan dan sinergi. Jadi tidak perlu saling menjatuhkan.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s