Meski Bisnis dengan Teman, Perjelas Pembagian Keuntungan Sedari Awal


Ganjalan yang paling sering ditemui saat bisnis dengan teman, kenalan, kolega sendiri adalah saat menentukan bagi hasil. Rasa sebagai teman sendiri terkadang memunculkan kesungkanan tertentu untuk menyebut nominal atau prosentase bagi hasilnya. ”Udah gampang yang penting kita goal dan jalan dulu aja, pembagiannya ntar di belakang aja”, atau ”Terserah kamu deh, aku sih ngikut saja toh kita teman”.

Dari cerita yang sering saya dengar dari pengalaman teman, pecahnya sebuah kongsi (hubungan bisnis) justru akarnya sering bermula dari sini. Tak jarang pada awal merintis bisnis, saat sama-sama berjuang membesarkan usaha bersama terlihat sangat solid, sangat padu, senasib sepenanggungan. Namun, saat usaha bersama memperlihatkan hasil yang positif, tumbuh, progress, dan profit besar, mulailah rasa saling takar menyeruak. ”Kayaknya dia mendapatkan pembagian yang lebih besar, sementara gue kok segini aja. Padahal gue udah ikut banting tulang membesarkan usaha ini”.

Atau dalam situasi lain, karena sungkan menyampaikan fee untuk diri sendiri di awal kerjasama, saat project berakhir terkadang nominal yang di dapat tidak setinggi yang diharapkan, maka muncul perasaan dongkol, jengkel, kesal bahkan kapok untuk kerjasama di lain waktu dengan teman tersebut. ”Wah dia ingin ngambil untung sendiri…”

Ya inilah pernak-pernik membangun bisnis dengan teman. Meski tak sama persis pengalaman masing-masing orang, namun pelajaran yang dapat kita tarik dari hal di atas adalah:

  1. Selalu perjelas PEMBAGIAN HASIL atau FEE Anda di awal kerjasama, memperjelas hak dan kewajiban, memperjelas hubungan dan mekanisme kerjasama. Jangan di tengah jalan, bahkan membiarkan hingga project berakhir.
  2. Bisnis sangat dinamis, sehingga antara apa yang kita plan dengan kenyataannya berbeda. Untuk itu setiap ada penambahan atau pengurangan job/tanggung jawab, sebaiknya juga kita bicarakan dengan partner kita dibandingkan saat kesepakatan awal di buat. Menganggap diri bahwa partner pasti akan memperhitungkan terjadinya perubahan job/tanggungjawab di akhir project sering berujung pada kekecewaan.
  3. Membuat perjanjian/kontrak sederhana juga langkah bijak. Karena hukum akan melindungi masing-masing bijak jika dikemudian hari muncul resiko, muncul perselisihan. Sekalipun dalam hubungan pertemanan, kontrak semacam ini kadang dipandang kurang pas, namun pengalaman memperlihatkan perselisihan sering muncul justru karena ketiadaan kontrak, karena masing-masing pihak bisa berkelit atau berargumen dari kesepakatan yang tidak tertulis ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s