Kecewa, Pembunuh Nomor Satu Motivasi


Kecewa ternyata punya energi potensial perusak yang sangat dahsyat. Bila jagoan dalam pilkada kalah, massa pendukung yang kecewa akan marah, membuat onar, merusak. Pasangan suami istri yang kecewa, akan gencatan senjata tak mau bicara, bahkan sampai pisah ranjang segala.

Bagaimana kalau karyawan kecewa? Anda tentu dapat dengan mudah menjawab pertanyaan ini, karena situasi ini kadang (sering?) kita jumpai on the spot di sekitar meja kerja kita.

Karyawan kecewa karena tidak mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan. Sederhananya seperti itu. Bentuknya macam-macamdan teramat banyak untuk disebutkan. Dari tidak dihargai hasil kerjanya, tidak diperlakukan adil, tidak diakmomodir ide-ide cemerlangnya, tidak dikembangkan karirnya, tidak dinaikkan gajinya, tidak diberikan bonus prestasinya, dan seribu alasan penyebab kekecewaan lainnya. Tidak, tidak, tidak….cukup kuat nuansa pikiran dan perasaan negatif mengemukan berbarengan dengan munculnya sikap kecewa karyawan.

Pada situasi karyawan yang masih diliputi rasa kecewa, motivasi kerja pasti turun secara signifikan. Atau kalaupun tetap mampu dan mau bekerja, maksimal yang bisa ia ingin berikan pasti sekadar pas bandrol semata. Selama kekecewaan belum sembuh, ia akan membawa terus rasa kecewanya tersebut kemana-mana. Menakutkan bukan? Inilah tantangan utama yang dihadapi para leader maupun eksekutif perusahaan dewasa ini. Mengembalikan kembali perasaan dan pikiran karyawan untuk enjoy bekerja, fun berkreasi kerja, hangat dalam berhubungan kerjasama dalam tim. Dinilah seninya memanage orang…

Solusinya? urai satu persatu penyebab kecewa anggota tim kita melalui komunikasi dialogis yang terbuka dan pendekatan one to one. Dengan pendekatan one to one, akan sangat dimungkinkan kita mampu memahami akar masalah penyebab kekecewaan anggota tim kita yang tentu beda-beda antar orang. Tiap orang tim member kita bisa jadi sangat beda syntom penyebab kecewanya.

Untuk itulah mengapa keterampilan coaching counselling sangat penting dikuasai oleh seorang leader di perusahaan. Dengan keterampilan ini, seorang leader akan mampu mendeteksi, bahkan membuka tali-tali simpul kecewa anggota timnya sampai ke akar-akarnya serta menggali aspirasi dan harapannya di masa depan.

Percayalah, dengan niat baik yang Anda tunjukkan kepada karyawan untuk mengulurkan tangan mengobati kekecewaan mereka, karyawan Anda akan menghargai kepedulian, naitan baik dan perhatian yang Anda tunjukkan tersebut. Sebaliknya, bila semakin Anda membiarkan kecewa itu terjadi dengan alasan tidak ada waktu buat hal semacam itu, motivasi karyawan Anda akan tetap berada di titik nadir. Kalaupun karyawan berhasil menyembuhkan rasa kecewanya sendiri, tentu harus di bayar mahal karena relatif membutuhkan waktu yang lebih lama.

Jangan remehkan rasa kecewa karyawan Anda, apapun akar penyebabnya. Karena dalam luka kecewa, tersimpan energi potensial untuk terus diam, tidak mau bergerak, bahkan dalam jangka waktu panjang akan meledak dengan daya rusak luar biasa.

***

Pandangi dan bayangkan secara perlahan dan dalam-dalam wajah karyawan Anda satu persatu mulai sekarang. Dan apakah Anda merasakan ada kekecewaan pada diri mereka?

Ingat, kecewa adalah pembunuh nomor satu motivasi kerja. Mari kita obati rasa kecewa mereka sedari sekarang…

 

 

 

 

Satu pemikiran pada “Kecewa, Pembunuh Nomor Satu Motivasi

  1. Memang “susah-susah gampang” Pak Krisnawan untuk memberikan motivasi ke orang lain, khususnya para pegawai kita.

    Susah…tapi pada akhirnya Gampang…

    Kalau di perusahaan saya, saya bedakan gaya motivasinya. Pegawai di level rendah, motivasinya adalah dengan perintah tegas, kuat, tanpa basa-basi. Tidak ada toleransi dengan rasa kecewa. Saya hanya pegang komitmen awal saat mereka ini saya terima kerja. Pokoknya di perusahaan saya, untuk pegawai di level rendah, harus tegas diterapkan “hitam-putih” komitmennya. Karena pegawai yang ini, pada umumnya hanya lulusan SD, SMP, dan paling tinggi setingkat SMA. Ini sebagian besar pegawai saya di Farm Peternakan saya…sekitar 400 orang.

    Nah, beda dengan pegawai di level menengah, lulusan Diploma 1 & 3, sampai S1…dan sudah berpengalaman kerja sebelumnya, tetapi dari sisi posisi masih di tingkat Supervisor. Di sini saya lebih kepada pendekatan persuasif…one to one, jika ada ketidakberesan pada kinerjanya. Me-review komitmen awal mereka juga, dengan menggali alasan paling mendasar, yang membuat kinerjanya menurun. Mereka di level menengah ini lebih bisa menerima dengan model pendekatan seperti ini.

    Dan, pada pegawai di level atas, setingkat Manager sampai Direktur…lebih mudah lagi untuk memotivasinya. Mereka ini juga sebagian sudah menyandang gelar S2 atau Master. Sehingga jika ada penurunan kinerjanya, maka saya dengan sedikit bicara saja…mereka di level atas ini sudah cepat tanggap, dan ada rasa malu karena ketahuan menurun motivasi kerjanya.

    Jadi, kalau saya menangani kekecewaan yang terjadi diantara para pegawai saya, tentu saay bedakan pendekatannya…sesuai di level mana pegawai saya tsb.

    Nah, kalau kekecewaan menyerang saya? wah…dengan mudah saja saya mengusirnya dan menghancurkannya… hehehe…kan saya ini juga Motivator, jadi lebih mudah untuk mengatasi rasa kecewa terhadap apapun dan siapapun. Kalau nggak, kan bisa malu kepada diri sendiri, yaa nggak Pak Krisnawan? Hwekekekek…

    Salam Progresif!
    Wuryanano
    http://wuryanano.com/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s