Dilematika SIDE JOB


onyet-01.jpg

Pekerjaan sampingan, ihhh dari rasa bahasa saja sudah terkesan murahan ya, he he he. Tapi uiits nanti dulu. Meski gemarnya nyamping alias kesamping-samping, banyak lho penggemar dari side job di jaman sekarang ini, apalagi ditengah makin sulitnya ekonomi.

Coba tengok kanan kiri Anda saat kerja di kantor. Orang tak segan, tak malu lagi kerja semacam ini. Ada seorang office boy yang jualan snack/rokok di laci atau meja kerjanya. Ada sekretaris jualan pulsa, jualan lipstick, jualan parfum. Ada pula petugas administrasi jualan tanaman hias, jualan kredit elektronik dll. Tapi apakah side job ini hanya dilakukan karyawan (maaf) level bawah? uppps, konon kabarnya para profesional atau eksekutif perusahaanpun tak jarang yang melakukan hal yang sama, meski sangat tersamar dan halus mainnya, he he he.

Saya jadi ingat celotehan seorang pengamen bis mayasari bakti jurusan Tangerang-Senen yang pernah saya naiki. “Ngapain malu-malu mbak dan mas? di Jakarta ini kalau malu maka gak bakalan hidup…”

—-

Saya ingin membagi beberapa kemungkinan alasan di balik karyawan melakukan side job.

  1. karena memang alasan kekurangan/kesulitan ekonomi rumah tangga
  2. karena mentalnya yg kere? maybe, sebab ekonomi RT sudah mapan dan cukup
  3. karena energi, ide, kompetensi, kreatifitas tak mampu ditampung perusahaan
  4. karena ada kesempatan: rule abu-abu, punishment tidak jalan

Meski hampir sebagian besar management perusahaan tak menyukai adanya praktek side job di perusahaan, namun jenis ‘penyakit’ ini tak mudah menghentikannya. Bahkan kalau tidak diambil tindakan tegas, cenderung seperti virus akan menjalar, menular ke lingkungan terdekat.

Trus gimana dunk?

Jadi sebelum saya side job, mending saya resign dulu, berani bikin usaha sendiri, trus ditekuni, pasti ke 4 akar penyebab di atas hilang dengan sendirinya. Tapi sekali lagi adalah pilihan saya lho… belum tentu pas bagi Anda.

Yang membahagiakan paling tidak bagi diri sendiri. Syukurlah dalam sejarah perjalanan karir bekerja di perusahaan ‘milik’ orang lain selama 10 tahun, saya tak pernah sekalipun melakukan side job.

Side job is Good Job. Are you sure?

5 pemikiran pada “Dilematika SIDE JOB

  1. “Side Job”, mungkin nama nya yang terkesal kurang oke. Mengutip dari kalimat anda “…konon kabarnya para profesional atau eksekutif perusahaanpun tak jarang yang melakukan hal yang sama, meski sangat tersamar dan halus mainnya…”.

    Bagaimana dengan profesionalisme, ilmu dan data ? Bagi beberapa orang, mungkin profesi akan lebih produktif dan memiliki profesionalisme yang tinggi pada saat mampu berinteraksi dengan beberapa pekerjaan, dan yang jelas … manajemen perusahaan musti bangga dengan orang-orang seperti ini. Karena dengan sebagian besar aktifitasnya, networking dengan perusahaan lain-pun terjalin dan mau tidak mau membawa kesan baik untuk perusahaan tersebut pula.

    Coba saja analisa, berapa profit perusahaan yang diberikan oleh orang-orang seperti ini (setidaknya di tingkat middle management) dibandingkan orang-orang di tingkat yang sama, yang duduk manis dan dengan embel-embel “loyalitas/ kesetiaan” pada perusahaan.

    Salam
    suhermin.blogspot.com

  2. saya kira tabu atau tidak tabunya sebuah side job mungkin hanya di patut dipandang pada tempatnya saja,wajar klo bpk bilang tabu dan mungkin tidak pantas karena jika di lakukan di dalam perusahaan(sambil bekerja)itu jelas bertentangan,karena biasanya konsentrasi bekerja akan terpecah bahkan bisa cenderung lebih fokus ke side jo nya(menguntungkan diri sendiri,egois).tapi di luar itu menurut saya side job itu hal yng kreatif,independent,berani,.

  3. menurut saya, side job adalah pekerjaan yang patut dihormati.

    mengapa?
    karena sekarang side job tidak selalu melakukan pekerjaan jual beli barang seperti yang bapak sampaikan diatas.

    seorang karyawan, yang bekerja dari senin-jumat untuk perusahaan tempat dia bekerja.
    dihari sabtu, minggu, dia bisa saja bekerja sebagai pengajar di suatu lembaga training untuk 1 atau 2 materi training.

    why not?
    pekerjaan dia sebagai trainer di luar jam kerja itu bisa disebut sebagai side job juga kan?

    so? side job is not bad job.
    selama tidak merugikan perusahaan.

    yang lebih ekstrem lagi, saat ini teknologi internet sudah sedemikian majunya.

    seorang karyawan perusahaan, di luar jam bekerjanya, dia bisa saja menerima pekerjaan side job sebagai programer freelance untuk pembuatan aplikasi suatu perusahaan, dari rumahnya langsung. dan jika sudah selesai, dia tinggal mengirimkan hasil programnya (aplikasinya) lewat internet.

    wah.. kalo mo ngomongin ini.. bakalan lebih seru lagi… karena dengan adanya internet, pekerjaan tidak hanya dari indonesia, tapi bisa datang dari belahan bumi lainnya, seakan-akan tidak terpengaruh oleh negara, alias borderless.

  4. Dear Apujiati, Deady dan Zakiatul H,

    Side Job adalah pilihan. Sama halnya dengan pandangan kita tentang side job itu sendiri. Mungkin di sinilah letak perbedaan pilihan kita. Dan menurut saya ini wajar, karena selalu ada pro kontra terhadap boleh tidaknya side job.

    Terima kasih atas kunjungan dan segala masukan Dear Dear Apujiati, Deady dan Zakiatul H.

    Salam Progresif!

  5. Saya bekerja di Trading Company, banyak sekali teman2 sales yang ‘nyambi’ punya side job. Saya pribadi menganggap punya side job sah2 saja sepanjang side job itu berbeda dengan main job di kantor (tidak mengganggu rejekinya perusahaan).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s