Menjadi Trainer atau Memiliki Lembaga Training?


Hari ini 1/4/2008, saya mendapat undangan dari teman lama untuk ngobrol-ngobrol santai sebagai sama-sama praktisi training. Restaurant pecel madiun BSD Serpong menjadi saksi asyiknya ngobrol kami berdua dari siang jam 12.00 hingga sore jam 16.00, di saat banyak orang lain sedang chaotic bekerja. Maklum jam-jam sibuknya kantor, khan?

Dari bincang-bincang mengenai kabar si A, kabar si B yang kebetulan sama-sama se profesi kami, obrolan berlanjut hingga strategi penetrasi ke market training. Teman saya ini memang multi tasking. Jago bikin event training, jago nulis, lihai juga mengajar. Jam terbangnya di dunia training menjadikan network dia dengan para direktur dan manager HRD dan trainer2 senior cukup kuat.

Justru di sinilah letak masalahnya. Begini ujarnya: “Saya thu banyak kenalan, biasa ngasih training juga, mampu bikin event seminar yang mendatangkan top-top speaker tanah air, hobi menulis dan sudah biasa di muat di berbagai media nasional. Tapi kok kayaknya para trainer lain seangkatan saya, bahkan yang lebih muda, justru lebih dikenal dan sukses diterima market ya?”

Hmmm, aku jadi bingung. Sebenarnya positioningnya anda itu, pengin di kenal di market sebagai apa sih bro? “Kalau saya sih biar lembaga saya aja yang dikenal market, karna saya konsepnya adalah regenerasi, perlu orang lain nanti yang meneruskan. Meski sekarang ini lembaga trainingku masih terbilang baru, namun saya yakin pasti suatu saat nanti bisa tembus ke market training. Dan aku tetap ngajar kok meski sekali lagi aku batasin untuk satu jenis modul saja”, demikian ujarnya.

—-

Management Qalbu (MQ) lebih dikenal karna sosok AA Gym. PPM dan Prasetiya lebih dikenal karena sosok lembaganya.

Kalau anda lebih pengin bangun corporate branding lebih dulu, sementara trainer lain lebih terkenal dan sukses, dont worry bro. Lha wong mereka orientasinya memang lebih ke personal branding kok.

3 pemikiran pada “Menjadi Trainer atau Memiliki Lembaga Training?

  1. Kalo saya memang lebih senang jadi Pengusaha Training nya, yang memiliki staff para Trainer, disamping juga punya staff manajemen.

    Cocok deh pak Krisnawan sudah mendirikan Lembaga Training, tinggal dipastikan aja status lembaganya…berbentuk badan hukum, biar menjadi semakin jelas arah bisnis dan strateginya. Lebih baik menjadi Perseroan Terbatas, dibandingkan Yayasan.

    Selamat menjadi Pengusaha Training, pak Krisnawan Putra.

    Salam dari Surabaya,
    Wuryanano

  2. Setuju Pak, tinggal mendahulukan yang mana, Corporate Image atau Personal Image.
    Tinggal pakai strategi bisnis yang mana. Alhamdulillah saya fokus di bisnis training juga, penganut corporate image.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s