Sang Jiwa Pulang dari Pengasingan


lotus.jpg

Hakikat manusia dewasa adalah bekerja

Hakikat bekerja tuk hasilkan nafkah

Hakikat nafkah untuk membiayai biaya kehidupan

Hakikat biaya kehidupan muncul, kebutuhan utk hidup tak smua tersedia gratisan

Jiwa pribadi bebas

Ketika akal dan tubuh menyatu, ia berpadu dengan sahabat-sahabatnya ini

Tanpa lelah, sang jiwa berusaha memahami sahabat: kadang membiarkan, kadang menahan, kadang menarik mereka

Sang akal lari kesana-kemari maunya ke masa lalu dan ke masa depan, di sanalah lintasannya ogah berhenti di masa kini

Sang nafsu tumbuh baik karena asupan pengalaman, menjadi dorongan keinginan. Maunya senang-senang, hindari yang susah-susah menderita. Teriak, berontak bila kesenangannya di cabut

Meski hingga tubuh mampunya hanya rebah nanti di masa tua, nafsu keinginan dan berkelindannya pikiran tidak ikut rebahan. Tiada kata rebah menyerah bagi akal dan nafsu

Sang jiwa sebagai pengendara

Ibarat Rossi dengan Yamahanya, segarang apapun dapur pacunya, Rossi pengendaranya

Bila Rossi terlalu asyik mengendara lupa jaga sikap waspada, di jalan lurus sekalipun engine bisa ngemposs kehilangan tenaga, asap putih disertai percikan api keluar dari knalpot racingnya

Bila Rossi lupa jaga sikap waspada, di tikungan selebar apapun, ia bisa terjengkang ambruk beserta motor tunggangannya, gagal finish, luka-luka lebam hingga patah tulang menemaninya

Ya sang Jiwa acapkali dikawini sang nafsu dan akal, hingga sulit dibedakan jati dirinya, menamaki, melekati, membodohi diri. Nurani seolah kusut, bluur, pekat oleh kabut rasa keinginan. Nurani sebagai pengendali seolah ikut lompat, loncat, pindah-pindah di antara kenangan dan fatamorgana.

Wahai Sang Jiwa,

Lelah mengikuti

Kesal saat diabai

Bahagia sejati seolah adalah malam gelap

Sayup-sayup engkau memanggil pulang, lirih

Tenang dalam badai kecamuk keinginan

Tangan lembut melambai-menjuntai

Ke sinilah pulang, ada rumput hijau ; air tenang

Sudah waktunya sibukmu kusibak…

*Dengar, kecap, dan lihatlah

Sang Damai merindumu pulang ke tanah perjanjian, yang penuh susu madu kehidupan…

dalam sepoi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s