Re-Programming:  Jurus Dewa Pengubah Nasib Manusianya Sendiri

gaya-soekarno.jpg………bahkan tanpa disadari kita telah diprogram oleh pihak lain, atas jalan hidup kita sendiri?

Lha wong iya tho? Kita makan 3 kali tanpa menyadari kenapa mesthi 3 kali tidak 2 kali atau bahkan 5 kali. Mengapa kita masuk jurusan SOS bukan IPA?, mengapa kita kalau berdoa mesthi menghadap utara bukannya timur di mana matahari terbit? Mengapa kalau kita hidup meshti kaya raya atau sebaliknya hidup secukupnya saja agar tidak tamak, lha khan asyiiik bila mampu kaya raya tapi tanpa tamak dan melekati kekayaaan tsb khan? Hehehe…

Ya inilah yang dinamakan pengkondisian [baca: pemrograman oleh lingkungan]. Kita sudah hidup dari kecil dengan pengkondisian-pengkondisian semacam ini oleh orang tua, oleh system nilai masyarakat dimana kita hidup, oleh Guru-guru, oleh Pak Ustadz, Pak Pendeta, Romo, Bhiksu… Trus, apa yang salah, donk? Sebenarnya tidak ada yang salah dan benar, yang ada adalah mana yang bermanfaat, memberdayakan, atau mana yang tidak bermanfaat atau memperdaya.

Pengajaran [baca: pemrograman] kehidupan memang demikian adanya, turun temurun, berdasarkan kajian dan pengalaman oleh para tetua dalam hidup kita tentu dalam konteks apa yang tumbuh dan terjadi di masa lalu. Nah, dalam konteks hidup kekinian dimana cara hidup, lingkungan hidup, sumber-sumber ekonomi penghidupan makin terbatas, dengan sarana teknologi yang sungguh berubah pesat, mana yang laik kita re-programming (baca: pemrograman baru) agar sesuai dengan outcome kita dalam meraih cita-cita kehidupan agar hidup kita bernilai tambah?

Misalnya saja, pengalaman pribadi saya yang awal nya memprogram diri bekerja dibidang yang sifatnya Human Interest (baca: Human Resource Development). Sejak semula ini adalah pilihan hidup saya, tentu dengan saya mempelajari background Bapak saya adalah Pegawai di Fakultas Kedokteran UGM Jogjakarta, serta Ibu yang adalah seluruh hidupnya dicurahkan menjadi Guru Sekolah Dasar Patalan sebuah Desa di Kabupaten Bantul. Beliau berdua sangat berdekatan dengan pekerjaan sebagai Pendidik di institusi Pendidikan. Darah pendidikan inilah Baca lebih lanjut

Jurus Ampuh, Sayang Dijauhi: SENI BERTAHAN

WaterManusia mempunyai kuasa dan kehendak bebas dalam kehidupan ini. Segala penemuan ilmu dan teknologi yang saat ini ada adalah bukti yang menjelaskan secara gamblang betapa Manusia dikarunia Tuhan dengan kemampuan yang mengagumkan. Pesawat terbang, computer, HP, Tablet, bahkan hanya dengan tinggal di sentuh maupun dengan suara alat-alat ini dapat dioperasikan ; teknologi berkembang sedemikian rupa.

Saudaraku, di tengah segala perkembangan canggih tersebut pertanyaannya adalah pernahkah Anda berada dalam suatu masa di mana kehidupan ini seolah berada dalam satu titik belenggu, di mana ada satu atau dua persoalan yang benar-benar membuat Anda seperti jalan di tempat, tidak tahu bagaimana jalan keluar untuk mengatasi masalah yang mendera.

Ada yang mengalami hanya 1 bulan saja, tapi ada pula yang mengalami sampai 1 tahun bahkan sampai bertahun-tahun baru mendapatkan titik terang: suatu pencerahan yang membebaskan diri dari belenggu persoalan yang menimpa. Dalam konteks ini sebenarnya segala daya upaya sudah dilakukan: dari menghubungi sahabat-sahabat, meminta saran kepada sesepuh rohaniawan, bahkan hingga berdiskusi intensif dengan pasangan atau boss di kantor. Jalan keluarnya sama, mandeg.

Saya kemudian mencoba belajar dari strategi dan taktik dalam permainan-pertandingan olahraga. Di sepakbola dikenal adanya fungsi back yang tugas utamanya menahan gempuran bola dari striker musuh agar jala tidak kebobolan. Di dunia pencak silat atau beladiri pada umumnya juga dikenal adanya jurus bertahan berupa seni dan skill memperkuat kuda-kuda. Bahkan di permainan catur yang sarat dengan adu strategi berbasis strategic thinking skill juga dikenal varian bertahan untuk mempertahankan/melindungi kehidupan sang raja. Baca lebih lanjut