BerULAH  dalam KARYA yang BerNILAI TAMBAH

event15Ya, nasib saya hari ini adalah akibat ULAH saya sendiri.

Bahkan Tuhan tidak mungkin mengULAHi umatnya, kecuali umat sendirilah yang telah mengULAHi dirinya sendiri, Tuhan juga tidak akan mengubah NASIB suatu kaum bila mereka sendiri tidak mau mengubah nasibnya SENDIRI.

Sesungguhnya dalam kehidupan kita hari ini, adalah akibat langsung dari ULAH kita di masa lalu. Keruwetan atau kesuksesan yang Anda tuai hari ini merupakan hasil langsung dari ULAH yang Anda telah tabur.

Mari kita pikirkan ULAH apa yang kita lakukan di masa lalu, sehingga hari ini Baca lebih lanjut

Dimana ke-Indonesia-an NLP Indonesia?

Coba tengok nama/identity berikut ini, sudah familiar bukan di telinga maupun mata anda?  Portal NLP Indonesia, NLP Indonesia, Indo NLP, Indonesia NLP Society, Indonesia NLP Academy, Coaching NLP Indonesia, IDNLP. Ya nyaris semua identity di atas menggunakan nama INDONESIA. Apanya yang Indonesia ya kira-kira? ehemmm.

Sesungguhnya ditengah marak dan berkembangnya NLP di Indonesia, terbersit pemikiran, seperti apa sieh NLP Indonesia yang sesungguhnya asli Indonesia? Sperti apa sih praktek dan aplikasi NLP yang pas untuk ranah dan konteks ke-Indonesia-an?

Di dalam kehidupan sistem kemasyarakatan di Indonesia, NLP itu mengemuka dan mewujud dalam bentuk kajian NLP seperti apa?  Atau dalam praktek dan aplikasi NLP di perusahaan-perusahaan di Indonesia, sebenarnya yang sedang bertumbuh kembang NLP seperti apa?

Misalkan nieh, dalam konteks budaya ngegosip di kantor (Ala Indonesia), kecepatan kasak-kusuk/gosip/rumor di kantor, jauh melebihi kecepatan suara, ha ha ha. Budaya ini hampir merata muncul dalam tataran komunikasi karyawan, menarik jika ini dapat dikaji dengan pendekatan NLP. (Raport, Pacing Leading, Perceptual Position, Belief & Value)

Sistem kekeluargaan, guyup, kejujuran, trust dalam pemilihan leader atau pemangku jabatan managerial di kantor. Sering yang terjadi dalam pengangkatan pejabat baru di kantor parameternya menggunakan hal-hal tersebut, bukan kompetensi ataupun pengalaman kerja sebagai variable utama. Meski sistem sudah disusun ketat, namun masih sering terjadi dalam praktek, seseorang diangkat sebagai leader karna memiliki hubungan dekat (patron, nepotisme, kekeluargaan, kroni, perkoncoan dll). Dalam konteks ini, menarik mengkaji secara NLP dikaitkan dengan 6 Level Neurogical System (Spiritualitas, Identity, Value/Belief, Capability, Behaviour, Environment).

Dua contoh praktek, budaya, hubungan kerja di atas sekali lagi, sangat khas ada dan terjadi dalam konteks industri di Indonesia, menjadi kenyataan pula bagaimana sebuah sistem business yang di adopsi dari barat sering “dipaksakan” diterapkan di Indonesia (Competency, BSC, IRP, ISO, Six Sigma).

Saya percaya, next jika NLP’ers Indonesia mampu mengkristalisasi ke khas an Indonesia ini, dan mampu menjadi rujukan untuk tidak terjadinya benturan antar budaya, sistem, nilai2, maka di sinilah akan benar-benar muncul NLP INDONESIA.

Bukan sekadar  NLP Indonesia, karna geografis domisili atau warga nergara Indonesia pemiliknya.

Bukan sekadar  NLP Indonesia, namun justru bukan budaya dan sistem nilai yang tumbuh khas Indonesia.

Atau sekadar mempermudah pencarian di keyword mbah Google, untuk membedakan dengan NLP Luar Indonesia? Waduh…

Jadi dimana dunk ke-Indonesia-an NLP Indonesia?

Sekadar refleksi, bukan menggurui.

Tabik!